Perda Sampah Kota Semarang tidak efektif !

3 07 2007


Shot with Canon PowerShot A430 at 2007-07-03

Perda ( Peraturan Daerah ) Kota Semarang No 6 Tahun 1993 yang mengatur tentang Sampah ternyata tidak efektif. Keberadaan Perda tersebut di Kota Loenpia ini seakan tidak dipedulikan seperti sampah yang biasa kita buang setiap hari.

Gambar diatas adalah salah satu plang himbauan atau lebih tepatnya peringatan kepada masyarakat agar bisa menghargai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan , dalam Perda tersebut bahkan seperti bisa kita lihat bahwa membuang sampah sembarangan bisa dikenai Kurungan maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp 50.000,00 tapi apa kenyataannya ? Perda itu tidak lain tidak ada yg peduli ! atau kami akademisi hukum biasa menyebut aturan aturan seperti itu sebagai Macan ompong , seharusnya dia bertindak dan disegani seperti seekor macan tapi ternyata ompong , ya gak ada yang bakalan takut.

tragis sekali , seakan tidak punya malu , pemasangan plang plang tersebut berada di titik titik strategis , seperti di perempatan Polda Jateng lalu di Tugu muda dan juga di perempatan peterongan . yang dimana plang plang tersebut bisa dilihat ribuan orang setiap harinya , tapi apakah keadaan kebersihan kota kita tercinta ini berubah dengan adanya perda yang sudah hampir genap 14 tahun dirancang ? tidak ! sampah sampah tetap saja ada , di kampung kumuh , di bantaran kali , di jalan jalan , di kampus , di tengah kota , semua tetap ada sampah …..

yang saya sesalkan kenapa perda yang dibuat mahal mahal tersebut sama sekali tidak ada penegakkan atas sangsi sangsinya … orang bisa membuang sampah sembarangan dimanapun mereka mau , tidak ada yang akan melarang apalagi menindak tegas para pelanggarnya . apakah pembuatan perda ini dulunya cuman sebagai “proyek” aja ? seharusnya kita mencontoh ( lagi lagi ) negara tetangga kita yg luasnya paling se kota semarang , tiap pelanggaran membuang sampah bisa ditindak dan diberi denda , kenapa disini gak bisa seperti itu ?


Aksi

Information

15 responses

4 07 2007
Yogie

Yaahh… daripada menyoroti peraturan yang memang dari sononya amburadul, kenapa nggak menanamkan kepada diri sendiri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya?

Ayo, jangan nuntut kepada pemerintah aja, tapi mulai dari diri sendiri aja untuk melaksanakan peraturan itu…

*ngomong opo tho aku kiii*

4 07 2007
huda

50.000 itu kan maximalnya.. berati situ kena denda minimalnya (0 rupiah, hehehe)

5 07 2007
paririan

huakaka…50 rebu….
itu nyampah brapa item dan??

5 07 2007
Tia

mungkin polisinya tahu kalau dhana emang lagi akting buang sampah, hehehe

6 07 2007
dhana

@ yogie : bener bgt yog , kalo ndak dari kita sendiri mo siapa yg jaga kebersihan kota. cuman disini aku nyorotin pembuatan perda yg sia sia ,satu perda ada butuh biaya puluhan juta. bayangin kalo itu buat beli kotak sampah takasimura nya mas adi n dibagiin ke penduduk di bantaran kali

@ huda : kena 50rb pun gak papa koq

@ pririan : gak banyak , tapi khan jelas pelanggaran

@ tia : perda bukan tugasnya police , tp tugas satpol pp , makannya perlu dibuat UU kebersihan biar polisi bisa nilang pembuang sampah kayak di negara uni eropa

6 07 2007
indah cantique

tuh pak polisi…pada baca gak…? ditantang ma “anak kecil” masa gak brani? apa emang pada nyadar semua dgn keacuhan ditubuh polda jateng?ck..ck..ck..klo kalian gak malu, saya yg malu punya polisi kaya gini…

well tapi emang gak semua polisi gini lho. cuma “beberapa” oknum ajah. sebagai bukti di Padang orang2 udh pada takut buang sampah sembarangan, coz polisinya BENER2 KERJA,jadi pada patuh smua warganya.yaah… walo baru sebagian besar diwilayah t’tentu, tapi semua semua itu butuh proses n sabar…

(asal duit dendanya gak dikantongi sendiri yah pak’pol….😉 peace n love …

7 07 2007
Nayz

dhana
aku sungguh tak menduga
kau bakul wedus bol . bol ? apaan sih

10 07 2007
esap

tul kata si YoGi, mendingan kita belajar disiplin dan itu harus dari diri kita sendiri!!

10 07 2007
asf

Memang untuk semua masalah, kita mulai dari diri sendiri.
Sepakat dengan Dhana, banyak banget peraturan di negeri ini yang hanya menjadi sampah. Padahal pembuatan peraturan itu menghabiskan banyak sekali duit rakyat.

Wakil rakyat, yang dibayar untuk membuat aturan kok dapat honor lagi ya kalau membuat peraturan.

Begitu juga dengan para pegawai di biro hukum departemen atau dinas yang mempersiapkan rancangan peraturan. Mereka juga selalu memperoleh honor juga. Apalgi pembahasannya kerap dilakukan di hotel-hotel.

Sudah mahal-mahal buat peraturan, eh hanya jadi sampah.

13 07 2007
chiw imudz

*hajar dhana yang mbuang sampah sembarangan*:mrgreen:

#Yogie

Yaahh… daripada menyoroti peraturan yang memang dari sononya amburadul, kenapa nggak menanamkan kepada diri sendiri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya?

setuju banget ma kutipan di atas. Jempol 5 deh, buat Yogie…

sebagai seorang Pramuka (cieh) dan manusia, sudah selayaknya kita mempunyai kesadaran, apalagi buat hal yang kelihatannya sepele kek gini

18 07 2007
bumisegoro

kalau gitu, untuk apa ya peraturan susah-susah dibuat?
* jadi mikir *

27 03 2008
hery

peraturan baru harus segera dibuat “Barang siapa menemukan sampah berikut pelakunya diberi imbalan maksimal 50.000 rupiah”. Mau coba!

8 07 2008
bez

mas, punya Perda tentang sampah ga?
lg butuh ni…tq

21 01 2011
ariani

penegakan atas sanksi-sanksinya kali mas, gunakanlah bahasa dengan baik dan benar biar yang baca tidak salah penafsiran.

6 08 2013
aw

welewele sampah itu mah dah mendrah daging di Indonesia kga bakal ilang kalo mau ilang ilangin dulu manusia manusia pembuang sampah sembarangan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: